Senin, 26 Maret 2018

UTS: Analisis Kasus


UJIAN TENGAH SEMESTER
Analisis Kasus
Dosen Pengampu: Rachmat Kriyantono, Ph.D.

Disusun Oleh:

Laras Aprilia Susilo
165120201111003

A.Kom 4

Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik
Universitas Brawijaya
2018


Analisis Kasus 1:
Salah satu fungsi public relations yang merupakan fungsi manajemen yaitu membantu manajemen selalu memberikan informasi pada dan responsif terhadap opini publik (Kriyantono, 2008, h. 22). Selain itu menurut Lattimore (dikutip di Kriyantono, 2014, h. 83) terdapat dua peran yang diharapkan dilakukan secara terus-menerus oleh public relations. Pertama, peran teknis, yaitu hal-hal yang menyangkut pekerjaan teknis seperti menulis, press-release, membuat newsletter, fotografi, membuat produksi audiovisual, dan menggelar event. Kedua, peran manajerial, yaitu berkaitan dengan aktivitas yang membantu manajemen dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah. Peran tersebut salah satunya menyakup pemonitoringan pemberitaan selama tiga bulan. Dalam segi waktu tiga bulan adalah waktu yang cukup untuk dapat menganalisis berita surat kabar di rubik seputar Malang untuk mengetahui tema apa saja yang sedang trending. Public relations menjadi penghubung antara subsistem internal maupun subsistem eksternal. Di dalam organisasi, public relations bertugas menyeleksi informasi yang masuk dan membentengi diri dari informasi menyesatkan dari luar (Kriyantono, 2014, h. 86). Ke luar organisasi, public relations merupakan representasi organisasi (external representation) yang menyediakan informasi dan membantu citra yang terbentuk di benak publik dengan berinteraksi dengan publik untuk mengumpulkan informasi apa yang dirasakan publik (Kriyantono, 2014, h. 86).
Dalam hal ini public relations berfungsi untuk menghubungkan organisasi dan lingkungannya, fungsi ini dikenal dengan “boundary spanning”. Melalui fungsi ini, public relations berinteraksi dengan lingkungannya untuk monitoring, seleksi, dan menghimpun informasi (Kriyantono, 2014, h. 86). Aktivitas public relations seperti ini dinamakan sebagai aktivitas “penjaga gerbang”(gate kepper). Hal ini merupakan upaya pencegahan diri untuk meminimalkan atau menghindari masalah, itulah sebabnya Badrun ditugaskan untuk melakukan klipping dan memantau pemberitaan. Menurut Herien Priyono (dikutip di Kriyantono, 2014, h. 87) PR harus menjadi “tukang keker” (tukang potret) koorporat untuk antisipasi kejadian. Kriyantono (2014, h. 87) mengemukakan pelaksanaan dungsi boundary spanning, yaitu:
  1. Menjelaskan informasi tentang organisasi kepada publik (lingkungannya). Informasi berupa input bagi publik seperti menginterpretasi filosofi, kebijakan, program, dan apa yang dipikirkan manajemen agar dapat dimengerti oleh publiknya. Selanjutnya, praktisi public relations menyeleksi, menerima, dan menyampaikan informasi dari publik kepada organisasi. Ini merupakan umpan balik dan input bagi organisasi.
  2. Memonitor lingkungannya sehingga mengetahui apa yang terjadi dan menginterpretasi isu-isu yang potensian memengaruhi aktivitas organisasi dan membantu manajemen merespon isu-isu tersebut melalui aktivitas isu manajemen.
  3. Membangun sistem komunikasi dua arah dengan publiknya agar organisasi dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Seorang public relations merupakan fasilitator komunikasi.

Tugas yang diberikan untuk Badrun mempunyai fungsi sebagai seorang public relations Bandrun menjadi penghubung antara subsistem eksternal maupun subsistem internal. Bandrun menghimpun opini pembaca dan menjadikan dalam bentuk klipping dilakukan untuk memonitoring bagaimana kerja organisasinya dimata publik. Selain itu, dengan cara memonitoring yang merupakan upaya pencegahan dini untuk menimalkan atau menghindari masalah dalam organisasi. Badrun juga bisa memberikan rekomendasinya ketika terjadi isu yang berpengaruh aktivitas organisasi. Tidak hanya itu sebagai perannya dalam gatekepper jika ketidakpastian informasi tentang lingkungannya semakin tinggi, maka semakin besar peluang Badrun bagi  untuk ikut dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu analisis tema pemberiataan seputar Kota Malang dilakukan untuk membuat program yang dilakukan organisasi untuk publik. Dengan adanya program tersebut diharapkan publik dengan organisasi bisa berjalan beriringan. Dengan ini Badrun sebagai public relations dapat mengelola informasi dan membangun relasi yang baik anatara organisasi dan publiknya.
Jadi, Badrun diberikan tugas membuat klipping dengan alasan untuk memonitoring opini pembaca tentang HS. Opini apa saja yang diberikan oleh publik tentang HS, ketika opini tersebut baik, maka HS akan memberikan pelayanan yang lebih baik lagi. Sedangkan jika opini tersebut tidak baik, maka yang akan dilakukan oleh HS yaitu memperbaikinya. Memantau tema-tema pemberitaan tentang kota Malang selama 3 bulan diperlukan untuk menganalisis apa yang perlu ditingkatkan HS dalam bidang pelayanannya di Kota Malang. Misalnya, tema pemberitaannya tentang pilkada bisa jadi HS akan memberikan diskon untuk penyewaan ballroom kampanye pilkada kepada calon kepada daerah.

Analisis Kasus 2:
            Menurut saya jawaban yang diberikan oleh Humas tersebut dalam konteks publisitas media tidak efektif. Dalam teori excellence menganggap public relations bukan lagi sakadar berperan sebagai alat persuasif atau sebagai teknisi komunikasi untuk menyebarluaskan informasi (house reporter) (Kriyantono, 2014, h. 107). Public relations merupakan fungsi manajemen yang membantu sebuah organisasi berinteraksi dengan komponen sosial dan politik di lingkungannya. Sebagai peran manajer ini Lattimore, dkk (dikutip di Kriyantono, 2014, h. 108) mencakup tiga hal: expert prescriber, public relations berperan sebagai konsultan untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi, memberikan pilihan solusi, dan menyupervisi proses pemecahan masalah tersebut; communication facilitator, public relations berperan sebagai penjaga gerbang (fungsi boundary-spanning) yang mehubungkan organisasi dan lingkungannya melalui komunikasi dua arah; problem-solving facilitator, public relations adalah partner manajemen senior untuk mengidentaifikasi dan menyelesaikan masalah. Dalam teori excellence ini menunjukkan bahwa public relations harus menjaga hubungan yang baik dengan lingkungannya, kualitas hubungan yang baik ini bisa ditingkatkan melalui ketersediaan informasi.
Perlu diingat bahwa informasi adalah segala hal yang dapat mengurangi ketidakpastain atau keraguan akan situasi tertentu (Kriyantono, 2014, h. 147). Apabila informasi yang diminta tidak dapat diberikan akan menimpulkan persepsi tertentu, persepsi ini bisa menimbulkan kesalahan informasi. Kesalahan informasi ini dapat menjadi kesalah fahaman yang berkepanjangan, ketika publik bertanya namun public relations dari sebuah organisasi tidak memberian jawaban akan menimbulkan banyak pertanyaan yang bercabang. Tidak hanya sampai disitu saja, publik juga akan menyimpulkan hal baru untuk melengkapi persepsinya. Untuk mencegah hal tersebut maka dibutuhkan informasi yang pasti. Ketidakpastian informasi bisa diartikan sebagai kesenjangan informasi. Karl Weick (Kriyatono, 2014, h. 147) menyamakan kegiatan berorganiasasi sebagai “kegiatan memproses informasi di mana informasi merupakan bahan mentah yang diolah oleh proses organisasi. Ketidakpastian informasi besar memunculkan sebuah persepsi yang tidak efektif. Untuk mengurangi ketidakpastian informasi diharapkan public relations menyediakan informasi dan umpan balik yang diperlukan untuk mengurangi ketidakpastian. Berdasarkan teori uncertainty reduction yag dikemukakan oleh Heath (dikutip di Kriyantono, 2014, h. 148) menyarankan praktisi public relations untuk meminimalkan ketidakpastian dengan menerapkan strategi komunikasi seperti berikut:
  1. Mengumumkan berbagai perubahan sedini mungkin bagi semua publik yang mungkin merasakan dampak perubahan.
  2. Memfasilitasi partisipasi staf dalam proses pengambilan keputusan untuk menyelesaikan suatu masalah, misalnya dengan mengadakan diskusi.
  3. Menjaga agar aliran informasi terjadwal dengan baik (jangan sampai terlambat memberikan informasi).
  4. Jika tidak dapat menyediakan informasi dengan baik, public relations harus memberikan penjelasan alasannya (ini penting apalagi di saat kritis).
  5. Public relations harus menjelaskan segala kebijakan ataukeputusan yang diambil manajemen, termasuk hal-hal yang melatarbelakangi keputusan itu.
  6. Selalu menjaga kepercayaan publik terhadap organisasi. Menyediakan informasi yang dibutuhkan karyawan, misalnya, bisa menimbulkan persepsi karyawan bahwa organisasi bisa dipercaya.

Dari beberapa hal diatas yang telah saya sampaikan, jawaban Humas tersebut tidak efektif dan peran Humas tersebut juga tidak efektif. Karena tentunya seorang wartawan pasti menginginkan informasi yang pasti dan cepat. Sesuai dengan teori excellence bahwa seorang Humas atau public relations harus membina hubungan yang baik antara organisasi dengan publik, yang dibutuhkan dalam kasus tersebut adalah informasi. Wartawan membutuhkan informasi untuk dimuat segara dalam beritanya. Untuk itu Humas seharusnya sudah mempunyai informasi yang cukup untuk diberikan kepada wartawan. Humas mempunyai kewenang tertinggi untuk menjalin hunungan dengan publik, jika humas tidak segera memberikan informasi tersebut akan memunculkan persepsi dari wartawan. Ketika pemahaman keliru akan menghasilkan sikap, opini, dan perilaku yang tidak mendukung organisasi (Kriyantono, 2014, h. 147). Maka, humas tersebut tidak berfungsi dengan semestinya. Diharapkan ketika hal tersebut terjadi lagi, Humas segera tanggap untuk merespon wartawan.

Analisis Kasus 3:
Dalam mengahadapi kasus ini manajer MS dapat melakukan pendekatan dengan Marmud, pendekatan tersebut dapat dilakukan dengan cara berkomunikasi satu sama lain. Manajer MS harus mau mendengarkan apa yang sebetulnya mengganggu Marmud dalam produktivitas kerjanya. Bisa jadi karena lingkungan kerja yang kurang mendukung, seperti sarana dan prasana, terlalu ketatnya peraturan, jam kerja yang membosankan, atau rekan kerja yang kurang bisa diajak kerjasama, dan masih banyak lagi. Hal tersebut bisa mempengaruhi produktivitas kerja seseorang. Dalam hal ini manajer MS harus mau mendengarkan apa yang menjadi keresahan Marmud, apa yang menjadikan Marmud dijuluki sebagai trouble maker. Manajer MS tidak bekerja sendiri dalam menangani permasalahan Marmud, manajer MS butuh seorang public relations. Public relations tidak hanya memiliki tugas untuk menjalin hubungan dengan pihak eksternal organisasi, namun juga internal orgnisasi. Berbagai aktivitas menjalain dan merekatkan hubungan menjadikan public relations memegang peran penting dalam sebuah organisasi., peran disini diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan public relations sehari-hari (Kriyantono, 2014, h. 83). Pribadi Marmud yang seperti ini diartikan juga sebagai subsistem yang rusak, karena beberapa rekan kerja Marmud terganggu dengan sikap Marmud. Akibatnya sistem tidak bisa berjalan dengan maksimal. Dasar dari kehidupan manusia adalah sebuah sistem. Sistem bisa diibaratkan sebuah mesin yang saling berhubungan satu sama lain, dalam sistem ada subsistem, jika salah satu subsistem tersebut rusak maka akan mempengaruhi subsistem yang lain sehingga sistem tidak dapat berjalan maksimal.
Hal yang dapat membuat Marmud bisa menjalin hubungan yang baik lagi dengan rekan kerjanya dengan memperbaiki komunikasi. Kreps (dikutip di Kriyantono, 2014, h. 79) mengatakan, “interaksi antar bagian dalam organisasi dilakukan untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Keberhasilan dalam beradaptasi akan menentukan pencapaian tujuan organisasi.” Kualitas adaptasi ini ditentukan oleh beberapa bagian kunci dalam organisasi, salah satunya adalah individu (seperti karyawan). Hubungan dan interaksi antarbagian (subsistem) dalam suatu sistem dan antara sistem dan sistem yang lain (dengan lingkungannya) memungkinkan terjadinya pertukaran input dan output (Kriyantono, 2014, h. 79). Ini sama halnya dengan Marmud, Marmud dan rekannya tidak dapat menjalankan hubungan dan interaksi dengan baik. Maka yang terjadi antara Marmud dan rekan kerjanya tidak bisa menghasilkan pertukan output dan input. Setiap sistem mengambil sumber daya (resources) atau input dari lingkungannya, memprosesnya, dan mengirim produk (output kepada lingkungannya) (Kriyantono, 2014, h. 79). Proses yang dimaksud disini merupakan interaksis antarsubsistem ketika mengubah input menajadi output. Perekat interaksi yaitu komunikasi, komunikasi merupakan darah bagi langgengnya hubungan kerja sama dalam sistem (Kriyantono, 2014, h. 79).
Dalam hal ini tidak hanya manajer MS, public relations, dan Marmud saja yang harus bekerjasama untuk membangun komunikasi yang baik. Namun, seluruh elemen dalam organisasi PT Makmur Sejati harus bersama-sama menjalin hubungan dan komunikasi yang baik. Pada dasarnya public relations adalah fungsi komunikasi dari manajemen agar organisasi mengadaptasi, mengubah, atau menjaga lingkungan agar tetap selaras dengan tujuan dan dapat mencapai tujuan organisasi (Kriyantono, 2014, h. 82). Proses public relations mesti mendorong organisasi untuk terbuka, membuka komunikasi dua arah dan mementingkan terciptanya pemahaman bersama (mutual understanding), dan bersedia mengubah sikap dan perilaku dalam proses adaptasi dengan lingkungan. Jadi kesimpulannya yang harus dilakukan oleh manajer MS adalah menjalin komunikasi yang baik dengan anggotanya, tidak hanya manajer MS namun semua elemen dalam organisasi PT Makmur Sejati. Jika komunikasi yang berjalan baik, maka Marmud tidak lagi akan menjadi trouble maker, jarang masuk kantor, dan tidak akur dengan rekan kerjanya.

Analisis Kasus 4:
Aksi SDA disebut merupakan pendapat pribadi yang dinilai tidak sejalan dengan partai yang diikuti. Menurut saya kesalahan terletak pada komunikasi yang dijalin antara SD dan anggotanya. Kurangnya komunikasi yang baik pada kedua belah pihak ini mengakibatkan ketidakjelasan informasi. Dijelaskan dalam teori struktrasi, struktur dalam sistem sosial seperti norma-norma kelompok, jaringan komunikasi, institusi sosial, ataupun aturan pergaulan memengaruhi perilaku individu dan perilaku individu juga bisa memengaruhi struktur-struktur itu (Kriyantono, 2014, h. 236). Namun perlu diingat lagi bahwa struktur yaitu atura-aturan – tertulis atau tidak, formal atau tidak – dan sumber daya yang digunakan menjaga keberlangsungan kelompok atau organisasi (Kriyantono, 2014, h. 236). Pada kasus ini SDA seakan sewenang-wenang dan tidak satu suara dengan anggota partainya. Dalam hal ini ada yang salah pada komunikasi. Komunikasi dalam suatu sistem sosial juga terbentuk dari hasil perpaduan perilaku komunikasi individu dan struktur sosial (Kriyantono, 2014, h. 237). Bisa jadi dalam hal ini ada dualitas struktur, artinya struktur mengandung dua sisi yang kontradiktif.  Sering pula terjadi melalui proses strukturasi yang terjadi dalam interaksi, anggota organisasi mempunyai pilihan untuk mengubah aturan atau menyesuaikan sumberdaya yang tersedia, tetapi mereka merasa struktur yang sebelumnya ada tidak memberikan dukungan (Kriyantono, 2014, h. 241). Jadi, yang seharusnya dilakukan oleh SDA adalh berkomunikasi terlebih dahulu dengan anggota partainya. Karena ketika yang disampaikan oleh SDA dengan anggotanya tidak sama akan menimbulkan konflik walaupun letak SDA dalam struktur pada strata pertama. Dengan demikian, komunikasi dalam suatu sistem sosial juga terbentuk dari hasil perpaduan perilaku komunikasi individu dan struktur sosial (Kriyantono, 2014, h. 237).
Dalam kasus selanjutnya mengenai pemberian nama gedung FISIP, kesalahan juga terletak pada komunikasi. Teori uncertainty reduction menyatakan bahwa hidup penuh keraguan yang membuat ketidakjelasan (ambiguity). Teori uncertainty reduction menggunakan komunikasi untuk mengurangi keragu-raguan, memahami orang lain dan diri Anda, dan membuat prediksi tentang perilaku orang lain ketika berinteraksi dengan orang lain saat pertama bertemu (Kriyantono, 2014, h. 140). Dalam kasus tersebut tidak ada kepastian penggunaan nama gedung, menjadi nama dua professor atau nama orang yang sudah berpulang. Dosen, mahasiswa, maupun karyawan menjadi bingung mana nama yang benar untuk pemberian nama gedung baru. Littlejohn & Foss (dikutip di Kriyantono, 2014, hm 142) mengatakan pada situasi yang ketidakpastiannya tinggi, semakin Anda tergantung pada data yang tersedia bagi Anda dalam situasi itu. Anda menjadi lebih sadar (conscious) dan berhati-hati (mindful) terhadap yang Anda lakukan. Jika Anda sangat tidak pasti tentang orang lain, Anda cenderung kurang percaya diri terhadap rencana Anda dan membuat alternative tentang cara merespons (Kriyantono, 2014, h. 142). Jadi, dalam hal ini yang dilakukan oleh pihak FISIP adalah memastikan mana yang benar, jika memang perlu dilakukan riset untuk mengetahui mana yang benar hal itu boleh dilakukan. Mengingat bahwa ketika ada kesalahan secuil pun akan berdampak pada yang lainnya. Perlunya menjalin komunikasi yang baik agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berterusan. Ketika kesalahpahaman ini terjadi terus menerus akan mejadikan konflik yang tidak berkesudahan. Tujuan komunikasi yaitu meminimalkan ketidakpastian yang Anda rasakan tentang  lingkungan dan orang-orang sekitar Anda (Kriyantono, 2014, h. 140). Hal ini bisa terjadi karena beberapa pihak belum saling mengenal ataupun belum ada koordinasi yang pasti. Untuk itu diharapkan dalam penyelesaian kasus ini perlunya diadakan pertemuan bersama membahas tentang pemberian nama untuk gedung di FISIP. Dengan begitu ketika sudah ada kesepakatan bersama yang dicapai semua pihak bisa menerima.

Analisis Kasus 5:
Perusahaan asuransi jiwa perlu memiliki seorang public relations. Ingatkah bahwa menurut Cutlip, Center & Broom (Kriyantono, 2008, h. 27) salah satu pekerjaan yang dilakukan oleh public relations di tempat kerja, yaitu mengontak media koran, majalah, suplemen mingguan, penulis freelance, dan publikasi perdagangan agar mereka mempublikasikan atau menyiarkan berita dan feature tentang organisasi itu sendiri atau oleh orang lain. Merespon permintaan informasi oleh media, memverifikasi berita, dan membuka akses ke sumber otoritas. Artinya public relations mempunyai peran besar yang akan membawa perusahaan tersebut banyak diliput oleh media. Public relations harus menjalin hubungan yang baik dengan media, karena semakin baik kualitas hubungan antara public relations dan media maka semakin besar peluang informasi tersebut dimuat. Hal ini akan membuat sebuah simbiosis mutualisme antara media dengan public relations, dimana media membutuhkan berita sedangkan public relations membutuhkan media sebagai penyebar informasi (Kriyantono, 2008, h. 71).
Hubungan media adalah hubungan organisasi dengan media massa sebagai usaha mencapai penyiaran yang maksimum atas suatu pesan public relations dalam rangka menciptakan pengetahuan dan pemahaman publik. Walaupun public relations dan media sama-sama memiliki simbiosis mutualisme public relations juga harus memahami karakteristik media dan kebutuhan media. hal ini akan menimbulkan komunikasi yang efektif dengan media. Selain itu, hubungan antara public relations dengan media harus berjalan dalam jangka panjang dan harmonis. Ada prinsip “win the editor’s heart and mind” (memenangkan hari dan pikiran editor) (Kriyantono, 2008, h. 71). Ketika telah memenangkan hubungan yang baik dengan media, secara langsung ketika PT Hidup Sejahtera memiliki berita yang bagus akan langsung diliput oleh media.
Dalam kasus ini PT Hidup Sejahtera sebelumnya tidak pernah diberitakan oleh media padahal PT Hidup Sejahtera merupakan perusahaan asuransi jiwa. Berbeda dengan perusahaan Besar Sekali yang bergerak pada bidang jasa catering. Bisa jadi PT Hidup Sejahtera kurang menarik perhatian media untuk diliput, misalnya tidak pernah mengadakan event perusahaan. Berbeda dengan perusahaan Besar Sekali yang setiap bulan mengadakan pembagian 1000 kotak makan gratis untuk pengunjung. Hal ini bisa diatasi oleh pubic relations dari PT Hidup Sejahtera dengan cara membuat event perayaan Hari Kesehatan Jiwa, mengundang nasabahnya untuk peduli dengan kesehatan jiwa. Membuat perlombaan mengganbar dengan tema kesehatan jiwa, dihibur dengan band dan stand up comedy, dan penyuluhan tentang kesehatan jiwa.
Yang terakhir yang dapat dilakukan oleh PT Hidup Sejahtera adalah membentuk citra. Ingatkah dengan prinsip “everybody is a PR” atau “You are PR on yourself”. Hal tersebut merupakan salah satu cara perusahaan untuk memperlihatkan citra dirinya kepada publik bahkan media. Citra adalah persepsi public tentang perusahaan menyangkut pelayanannya, kualitas produkm budaya perusahaan, perilaku perusahaan atau perilaku individu-individu dalam perusahaan dan lainnya (Kriyantono, 2008, h. 9). Citra perusahaan tidak hanya dibangun oleh public relations saja, namun semua unsur perusahaan. Citra dimulai dari identitas korporat sebagai titik pertama yang tercermin melalui nama perusahaan (logo) dan tampilan lainnya, seperti laporan tahunan, brosur, kemasan produk, company profile, interior kantor, seragam karyawan, newsletter, iklan, pemberitaan media, metari tertulis maupun audiovisual (Kriyantono, 2008, h. 12).
Jadi yang harus dilakukan oleh PT Hidup Sejahtera agar diliput oleh media yaitu menjalin komunikasi yang baik dengan media. Hubungan dengan media tidak boleh hanya sekali dilakukan, namun terus berjalan dengan baik. Antara perusahaan dan media juga harus memiliki simbiosis mutualisme. Selain itu perusahaan perlu memiliki citra yang baik dengan publik. Beberapa hal tersebut dilakukan untuk memenangkan hati media dan membuat PT Hidup Sejahtera diliput oleh media.


DAFTAR PUSTAKA


Kriyantono, Rachmat. (2014). Teori-teori PR perspektif barat & lokal: aplikasi penelitian dan praktik. Jakarta: Prenada Media Group.
Kriyantono, Rachmat. (2008). PR writing: teknik produksi media public relations dan publisitas koorporat. Jakarta: Prenada Media Group.




Share:

Related Posts:

0 komentar:

Posting Komentar